Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2016

Manajemen Pengembangan Kurikulum

Perubahan SNP
 PP No. 19 Tahun 2005 Menjadi PP No 32 Tahun 2013


Oleh: Ronaldus S. Rilman, M.Pd.



(Source Image: http://3.bp.blogspot.com/)
 A.      Pengertian
Menurut Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 bab 1 pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk memenuhi kriteria minimum yang telah ditentukan. Guna tercapainya tujuan pemerataan pendidikan di wilayah hukum Negara Kesatuan republik Indonesia.
Dalam pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan, haruslah ada yang menjamin dan mengendalikan mutu pendidikan sehingga sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Dalam hal ini pemerintah melakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Ketiga proses ini dilaksanakan untuk menentukan layak tidaknya lembaga pendidikan yang berstandar nasional.
Standar Nasional Pendidikan bertujuan bukan hanya untuk memeratakan standar mutu pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesi, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan perubahan lokal, nasional dan, global. Dikarenakan mutu pendidikan di Indonesia telah jauh tertinggal dari negara ASEAN yang lain, maka peningkatan-peningkatan di segi pendidikan akan terus terjadi. Sehingga mutu pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

Kamis, 22 September 2016

Teori Belajar

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Oleh:
Ronaldus S. Rilman, M.Pd.



B.F Skinner  (Source: Google Image)


1. Pengertian Teori Belajar Behavioristik
 Adalah teori yang menjelaskan bahwa perilaku sepenuhnya merupakan hasil dari kegiatan belajar.
2. Tokoh dan Kerangka Berfikir Teorinya
a)   Edward Lee Thomdike (1874-1949)
Menurut Thomdike,belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dengan respon. Ia mengadakan percobaan dengan seekor kucing yang dikurung dalam sangkar yang tertutup dengan pintu kecil yang secara otomatis kalau disentuh dapat terbuka. Kalau di luar sangkar diletakan makanan maka kucing tersebut akan berusaha keluar dengan cara percobaan-percobaan (trial) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu dan kemudian berhasil keluar karena dilakukan berulang-ulang. Sehingga bentuk paling dasar dari belajar adalah “Trial and Error Learning” atau “Selecting and connecting Learning”. Sering juga disebut teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.

Rabu, 01 Juni 2016

KOMPARASI KURIKULUM DI INDONESIA DENGAN NEGARA LAIN

Oleh:
Ronaldus S. Rilman, M.Pd.


Ilmu pengetahuan merupakan sebuah jalan untuk mempermudah kehidupan umat manusia. Ketika manusia sudah memiliki ilmu pengetahuan maka tingkat kehidupannya pun semakin membaik. Agar seluruh masyarakat memiliki ilmu pengetahuan secara merata, maka dibuatlah sebuah sistem agar ilmu pengetahuan mampu dipelajari dengan mudah. Pendidikan adalah sebuah sistem yang didalamnya terdapat komponen-komponen penunjang dalam usaha mencapai tujuan mencerdaskan masyarakat. Setiap negara memiliki tujuan dan sistem pendidikan yang berbeda sesuai dengan visi dan misi negara mereka. Indonesia merupakan negara yang sangat mementingkan pendidikan, hal ini tertuang dalam Undang-Undang Dasar ’45  yang merupakan pondasi dasar negara ini. 

Kita mampu melihat sejauhmana perkembangan pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain dengan melihat aspek-aspek pendidikan yang global. Aspek pendidikan secara global mampu dilihat melalui aspek pendidik, anak didik, alat pendidikan, dan tujuan pendidikan. Indonesia negara yang saat ini menganggarkan 20% APBN nya untuk pendidikan terasa masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan proses pembelajaran. Aspek-aspek pendidikan yang akan penulis kaji  merupakan mempunyai tujuan untuk membandingkan tingkat keberhasilan pendidikan di Indonesia dengan negara tetangganya. Untuk mengetahui perbandingan aspek-aspek ini, kita harus mengetahui dahulu pengertian dari masing-masing aspek.
Pendidik adalah orang dewasa yang telah dianggap mampu bertanggung jawab terhadap apa yang diajarkan kepada anak didik. Sedangkan anak didik adalah individu yang butuh bimbingan dan arahan dalam bertingkah laku dari pendidik. Aspek yang lainnya yakni alat pendidikan yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang didalamnya berisi komponen pendidikan yang bersinergi satu sama lain. Sedangkan tujuan pendidikan di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan tujuan negara dalam menciptakan generasi penerus bangsa. Bisa dikatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mentransformasikan seluruh nilai dan norma serta perkembangan ilmu pengetahuan kepada generasi penerus.

Senin, 08 September 2014

Profesionalisme Guru

PROFESIONALISME GURU


Profesi guru di dalam institusi persekolahan mulai berkembang di seluruh Nusantara pada zaman kolonial. Guru telah ikut berperan dalam pembentukan Negara dan Bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional Bahasa Indonesia. Profesi guru pernah menjadi profesi penting dalam perjalanan perjuangan bangsa ini dalam menanamkan nasionalisme, menggalang persatuan dan berjuang melawan penjajahan. Sayangnya dalam beberapa dekade terakhir ini, kini profesi guru dianggap kurang bergengsi dan kinerjanya dinilai belum optimal serta belum memenuhi harapan masyarakat. Akibatnya mutu pendidikan nasional pun dinilai terpuruk.
Persoalan guru semakin menjadi persoalan pokok dalam pembangunan pendidikan, disebabkan oleh adanya tuntutan perkembangan masyarakat dan perkembangan global. Hingga kini persoalan guru belum pernah terselesaikan secara tuntas. Persoalan guru di Indonesia adalah terkait dengan masalah-masalah kualifikasi yang rendah, pembinaan yang terpusat dan hanya sekedar proyek, perlindungan profesi yang belum memadai dan persebarannya yang tidak merata sehingga menyebabkan kekurangan guru di beberapa lokasi. Segala persoalan guru tersebut timbul oleh karena adanya berbagai sebab dan masing-masing saling mempengaruhi.
Melihat pendidikan di negara kita yang mutunya pada umumnya masih kurang baik maka pemerintah harus selayaknya memperbaiki agar mutu pendidikan di Indonesia dapat disejajarkan dengan negara-negara di asia. Maka peran guru sangatlah penting dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Untuk itu, seorang guru harus mampu meningkatkan profesionalismenya sebagai seorang pendidik. Sehingga dapat dirumuskan masalah “Upaya-upaya apakah yang dapat meningkatakan profesionalisme guru “.

Sabtu, 07 Juni 2014

Kepemimpinan Pendidikan

Kepemimpinan Visioner dalam Meningkatkan Profesionalitas Kepala Sekolah

Oleh: 
Ronaldus S. Rilman, S.Pd.


1.      Konsep Kepemimpinan Visioner
Konsep visi, Lee Roy Beach (1993:50) mendefinisikan visi yaitu : Vision defines the ideal fiture, perhaps implying retention of the current cultura and the activities, or perhaps implying change (Visi menggambarkan masa depan yang ideal, barangkali menyiratkan ingatan budaya yang sekarang dan aktivitas, atau yang menyiratkan perubahan).
Terbentuknya visi dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman profesional, interaksi dan komunikasi, penemuan keilmuan serta kegiatan intelektual yang membentuk pola pikir tertentu (Gaffar, 1994:56). Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan “school based management”. Kepemimpinan ini yang difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan, menjadi agen perubahan (agent of change) yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi yang tahu prioritas, menjadi pelatih yang profesional dan menjadi pembimbing anggota lainnya, dan mampu menampilkan kekuatan pengetahuan berdasarkan pengalaman profesional dan pendidikannya. Visioner Leadership didasarkan pada tuntutan perubahan zaman yang menuntut dikembangkannya secara intensif peran pendidikan dalam menciptakan sumber daya menusia yang handal.

Jumat, 11 April 2014

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

Oleh: Ronaldus S. Rilman, S.Pd.



A.      Latar Belakang
Dunia saat ini terasa kecil, hal ini tentu dipengaruhi oleh perkembangan globaisasi yang membawa kita pada tatanan dunia baru. Globalisasi melululantahkan negara-negara berkembang atau biasa disebut dengan negara peri-peri (negara pingiran). Dan salah satunya adalah negara Indonesia, globalisasi dalam pengertian yang lain merupakan problem sejarah. Dengan demikian negara atau bangsa manapun tidak akan bisa lari atau bersembunyi dari kejaran globalisasi.
Globalisasi dimaknai sebagai, kerja sama antara dua negara yang saling menguntungkan (ekonomi/bilateral). Dua negara yang secara ideologi, sosial, dan budaya yang tentunya berbeda. Oleh karenanya, globalisasi diharapkan mampu membawa dunia pada tatanan yang lebih bermartabat. Namun dewasa ini, globalisasi tidak lebih dari mesin pengerak para penganut paham kapitalis.
Harapan kita sebagai bangsa yang besar, yakni Bangsa Indonesia ialah lahirnya “Pendidikan Multikultural” sebagai perekat antara manusia Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Pendidikan Multikutural dianggap sangat penting bagi negara-negara yang secara keberadaannya majemuk dan menjadi satu tantangan tersendiri dalam mengelola pluralisme atas etnik atau kelompok yang ada.
Mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar maka sudah menjadi tangunggjawab bagi generasi saat ini dalam mempertahankan integritas bangsa kita. Di masa yang akan datang dunia mungkin berwajah ganda dan manusia tidak lagi dipandang sebagai senyawa dari manusia lainnya, melainkan seekor binatang (Homo-homenilupus).
Di dalam bukunya Samuel P. Huntington (Benturan Antara Peradaban), meramalkan bahwa akan terjadi benturan antara peradaban. Benturan itu disinyalir akibat beberapa faktor: politik, sosial, budaya, ekonomi, ras, bahkan agama.
Melihat fenomena tersebut, pendidikan di Indonesia haruslah peka menghadapi arus perputaran globalisasi. Pengalaman pahit semasa Orde Baru tidak  perlu berulang lagi. Pola pemaksaan kehendak oleh pemerintah untuk membentuk satu kehidupan yang seragam melalui aturan-aturan dalam segala aspek kehidupan perlu ditinjau ulang dan dipertanyakan.
Gelombang demokrasi menuntut pengakuan perbedaan dalam tubuh bangsa Indonesia yang majemuk. Oleh sebab itu pendidikan multikultural adalah jawaban atas beberapa problematika kemajuan itu. Perlu disadari bahwa proses pendidikan adalah proses pembudidayaan dan cita-cita persatuan bangsa merupakan unsur budaya nasional.
Pendidikan multikultural dapat dirumuskan sebagai wujud kesadaran tentang keaneka ragaman kultur, hak-hak asasi manusia serta pengurangan atau penghapusan bebagai jenis prasangka atau prejudise untuk membangun suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Pendidikan multikultural juga dapat diartikan sebagai strategi untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya (the pride in one’s home nation).
Di Indonesia pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen, plural, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru diberlakukan sejak 1999 lalu hingga saat ini.
Sebaliknya, pada level nasional, berakhir sentralisme kekuasaan yang pada masa Orde Baru memaksakan “monokulturalisme” yang nyaris seragam telah memunculkan reaksi balik, yang bukannya tidak mengandung sejumlah implikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang multikultural. Berbarengan dengan proses otonomisasi dan desentralisasi kekuasaan pemerintahan, juga terjadi peningkatan  gejala “provinsialisme” yang hampir tumpang tindih dengan “etnisitas”.
Kecenderungan ini, jika tidak dikendaikan akan dapat menimbulkan bukan hanya disintegritas sosial-kultural yang amat parah, bahkan juga disintegritas politik. Oleh karena itu pendidikan multikultural dapat menjadi mediator dalam upaya membingkai segala perbedaan dengan motto Bhineka Tunggal Ika.

Kamis, 19 Januari 2012

Artikel Pendidikan

Saatnya Putar Haluan Arah Pendidikan
Oleh  
Ronaldus Suharyanto Rilman, S.Pd.    



Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, telah lama dilakukan. Bahkan setiap Repelita, peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan dibidang pendidikan.berbagai program dan inovasi pendidikan, seperti penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar dan referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas penunjang, dan lain-lain sudah dilakukan. Namun sampai saat ini mutu pendidikan masih jauh dari harapan.
Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai SLTA relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dari dunia usaha muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Krisis ekonomi yang belum berakhir menambah tingginya angka pengangguran. Di bidang pendidikan sendiri,  data Depdiknas menunjukkan bahwa sekitar 34,4% lulusan SLTP tidak melanjutkan ke SLTA, 88,4%  lulusan SLTA tidak melanjutkan ke PT, dan 89,9% lulusan PT yang saat ini belum memiliki pekerjaan tetap alias nganggur. 
    Di tengah tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi yang mencapai jutaan orang, sudah saatnyalah pemerintah mengubah haluan arah pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan itu tidak lagi menghasilkan sarjana-sarjana pencari kerja seperti sekarang ini, melainkan juga harus diubah menjadi sarjana pencipta kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pengangguran terbaru di Indonesia totalnya sebesar 7,41 persen atau mencapai 8,59 juta orang. Jumlah ini menurut BPS adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) atau penduduk yang nyata-nyata diklasifikasikan tidak bekerja (Vivanews,10 Mei 2010)).  Misalnya, di Provinsi DI Yogyakarta saja berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran di DIY meningkat hingga 3.300 orang dibandingkan tahun 2009 lalu (Republika, 23 November 2010).   
Dengan melihat banyaknya angka pengangguran di Indonesia, salah satu usaha yang efektif dapat dilakukan adalah Pendidikan Kewirausahaan (Enterpreneurship). Kewirausahaan adalah tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.  Kewirausahaan bukan berarti menjadikan atau menciptakan pedagang, tetapi menciptakan suatu terobosan yang aktif dan inovatif serta berlatih berani dalam mengambil risiko. Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan adalah pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum yang terintegrasi yang dikembangkan di sekolah. Sebagai disiplin ilmu seperti yang dilansir dari Kompas.com (9/4/10) kewirausahaan bisa diajarkan lewat sistem terstruktur, salah satu hasil penting dan utama praksis pendidikan. Lembaga pendidikan tidak dapat memberikan pekerjaan, tetapi bisa memastikan agar hasil didik mampu menciptakan pekerjaan.
    Kalau kita melihat sekilas, tampaknya keuntungan terbesar dialami oleh subjek pendidikan, dalam hal ini adalah mahasiswa. Di samping itu, hal ini juga berdampak sistematis kepada negara kita. Tentunya, negara akan maju karena dapat menghasilkan iklim kewirausahaan yang semakin kompetitif.
    Agar dapat melaksanakan usaha tersebut, perlu dilakukan tiga lompatan atau kuantum, yaitu pendidikan di TK hingga SLTA, di perguruan tinggi, dan di masyarakat. Di TK hingga SLTA, kewirausahaan haruslah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, di perguruan tinggi perlu dibuat enterpreneur center, sedangkan di masyarakat, yaitu diciptakannya gerakan nasional budaya dan pelatihan-pelatihan kewirausahaan.
    Apabila hal tersebut dilakukan dan dilaksanakan secara komprehensif, maka arah pendidikan kita tidak lagi menghasilkan sarjana-sarjana pencetak kerja, tetapi menciptakan sarjana-sarjana pencipta kerja. Di samping itu, kewirausahaan merupakan langkah efektif untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat.
    Nah, Pendidikan Kewirausahaan sekiranya perlu menjadi perhatian yang serius, khususnya pemerintah agar negara kita yang tercinta ini terbebas dari angka pengangguran yang berdampak sistematis karena dapat menciptakan angka kriminalitas yang tinggi ditengah masyarakat. Yang jelas, pendidikan kita perlu membutuhkan sebuah terobosan (inovasi) dalam perbaikan sistem pendidikan itu sendiri.
 





Rabu, 18 Januari 2012

Media Pembelajaran

MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS IT
Oleh: Ronaldus S Rilman, S.Pd.

Media pembelajaran menurut Briggs (1977) adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, video, film dan sebagainya. Sedangkan, National Education Association (1969) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, yang dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana atau alat yang digunakan oleh para pendidik dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik, sehingga efektivitas pembelajaran dapat berlangsung baik (Wikipedia Indonesia.com). Sedangkan Information Technology (Teknologi Informasi-TI), adalah istilah untuk mendeskipsikan teknologi-teknologi yang memungkinkan manusia untuk mencatat (record), menyimpan (store), mengolah (process), mengirim (transmit) dan menerima (receive) informasi (Pustekkom.com).
Media pembelajaran berbasis IT adalah penerapan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan agar efektivitas kegiatan pembelajaran dapat berlangsung baik dan lancar.  Penerapan teknologi dalam dunia pendidikan dinilai sebagai suatu bentuk inovasi baru untuk meningkatkan minat dan daya kreativitas peserta didik. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan motivasi bagi para pendidik untuk terus berinovasi dalam mendidik siswanya.
Pesatnya perkembangan teknologi IT, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam bidang pendidikan. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga tersedia layanan informasi yang lebih baik untuk peserta didik.
Untuk kontinuitas apresiasi masyarakat terhadap teknologi informasi, Departemen Pendidikan Nasional harus menerapkan media pembelajaran berbasis informasi dan komputer sejak dini sehingga usia produktif dapat betul-betul memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa Indonesia secara menyeluruh. Seperti yang dilansir dari EKSPOSnews.com (05/03/10), proses pembelajaran informasi teknologi yang dikembangkan dan diterapkan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) bertujuan agar ke depan menghasilkan generasi-generasi yang berkualitas. Hal ini seiring dengan kemajuan era teknologi yang demikian pesatnya, untuk itu sudah saatnya proses pembelajaran IT diterapkan disetiap satuan pendidikan mulai dari pendidikan anak usia dini hingga menengah. 
Penting untuk untuk penyelenggara pendidikan menyadari pemanfaatan dari penggunaan media IT dalam kegiatan pendidikan. Anggapan bahwa pemanfaatan media pendidikan bagi sekolah terkesan mahal harus dihilangkan. Para pendidik juga harus dilatih dan terbiasa untuk lebih kreatif dalam memberikan bahan pembelajaran.
Pemanfaatan IT sebagai media pendidikan harus mampu membangkitkan rangsangan positif  bagi  para peserta didik. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka seorang pendidik perlu memiliki sebuah media pembelajaran yang memadai agar bahan ajar dapat diserap oleh peserta didik dengan baik.  Berikut merupakan beberapa kiat-kiat penerapan media berbasis IT dalam pembelajaran menurut pendapat penulis dan beberapa diantaranya dikutip dari beberapa sumber.
1.    Presentasi Power Point
Microsoft Power Point merupakan sebuah software yang dikembangkan oleh perusahan Microsoft, dan merupakan salah satu program berbasis multimedia. Didalam computer, biasanya program ini sudah dikelompokkan dalam program Microsoft Office. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi dengan berbagai fitur menu menarik yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi yang menarik. Dalam kegiatan pembelajaran, program ini sangat bermanfaat diterapkan oleh pendidik karena penyajiannya sangat menarik, pesan informasi secara visual lebih dipahami peserta didik, lebih merangsang peserta didik untuk mengetahui informasi tentang bahan ajar yang tersaji, dan lain-lain yang tentunya memiliki banyak manfaat.

2.    Video Pembelajaran
Video Pembelajaran ini berupa video hasil rekaman aktivitas pembelajaran yang direkam dan ditampilkan dalam bentuk video. Media pembelajaran ini cukup menarik untuk diterapkan  oleh pendidik karena akan sangat membantu peserta didik memahami materi ajar yang disajikan. Selain itu, media ini dapat merubah cara mengajar pendidik yang cendrung monoton dan terpaku pada teks.



3.    Course Management
Course Management adalah penggunaan IT untuk membantu pengajar maupun peserta didik dalam melakukan interaksi, kooperatif, dan komunikasi untuk penyelenggaraan sebuah kelas dengan mata ajar tertentu. Dengan bantuan aplikasi jaringan (web) ini, maka segala tugas, pekerjaan rumah, dan tugas lainnya dapat dilakukan dengan cara di download dari alamat situs tertentu yang relevan.





4.    Knowledge Portal
Knowledge Portal (Portal Pengetahuan), adalah sekumpulan alamat situs web yang memiliki berbagai macam reverensi dari berbagai disiplin ilmu. Seseorang mencari informasi tentang salah satu disiplin ilmu, dengan mudah dapat langsung mengaksesnya melalui portal ini. Oleh sebab itu, keberadaan portal ini sangat membantu para pendidik dan peserta didik dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.




Beberapa kiat-kiat diatas cukup memberikan kontribusi yang besar dalam kegiatan belajar mengajar. Seperti yang dilansir dari Pustekkom.com, secara umum manfaat media pembelajaran diatas adalah untuk memperlancar interaksi antara guru dengan siswa, sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efesien. Sedangkan secara khusus manfaat media pembelajaran adalah:
1.    Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami dan manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
2.    Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komunikasi dua arah secara aktif. sedangkan tanpa media, guru cendrung bicara satu arah.
3.    Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi lebih mendalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran. Tetapi jika diperkaya dengan kegiatan menyentuh, merasakan, dan mengalami sendiri melalui media, pemahaman siswa akan lebih baik.
4.    Media memungkinkan proses belajar dilakukan dimana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung pada seorang guru. Perlu kita sadari, waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru diluar lingkungan sekolah.
5.    Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media, tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
6.    Media dapat menumbuhkan sikap positif terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.

7.    Mengubah peran guru kea arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak memiliki waktu untuk member perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.
 
 
Beberapa kiat-kiat penggunaan media pembelajaran berbasis IT dan kontribusinya dalam kegiatan belajar mengajar diatas, merupakan contoh media pembelajaran yang bisa menjadi referensi bagi para pendidik dalam menyajikan materi kepada peserta didik. Hal ini dilakukan agar siswa tidak bosan dengan cara penyajian materi yang cendrung monoton dan ketinggalan jaman. Selain itu, dengan pemanfaatn media pembelajaran berbasis IT ini, diharapkan dapat menghasilkan generasi yang memiliki sumber daya berkualitas dan berpikiran maju. Jadi, hal ini tentunya layak untuk dicoba dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Daftar Referensi:
http://pustekkom.depdiknas.go.id/indeks.php?=hal&id=77. 2010. Diakses 1 Desember 2010.
http://www.eksposnews.com/2010/05/03/pembelajaran- IT- harus -dimulai- sejak- dini/
http:/wikipediaIndonesia.com/2010/03/06/media- pembelajaran -berbasis –IT. Diakses 5
Desember 2010.
http:/teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/20/pustekkom-menyusun-alternarif-
pemecahan-masalah-pendidikan/
http:/edu-articles.com/15/12/2010/Situs Pendidikan Indonesia:mengenal media pembelajaran/
Sadiman, Arief.1984. Media Pendidikan, Pustekkom Dikbud. Jakarta: PT Raja Rafindo Persada.